Dalam madzhab syafi'i boleh menjama' dan mengqoshor sholat jika sudah bepergian dengan melewati yang namanya Umronul balad (batas dimana tidak ada bangunan sama sekali) dan ketika sudah sampai tempat tujuan, kita masih bisa jama' qhosor dengan niat tidak bermukim di situ walau sebenarnya bermukim selama setahun misal,, tetapi boleh menjama' dan mengqosor hanya selama seminggu, bukan seterusnya....
Ini dalam madzhab syafi'i.
Umronul balad itu batas dimana tidak ada bangunan, Misal antum berada di jalan, lalu kanan kiri antum tidak ada bangunan sama sekali sampai kira-kira 150 m...
kalau sudah melewati batas itu antum boleh menjama' dan mengqosor sholat dengan syarat perjalanannya mencapai jarak qoshor.
Ini pandangan yang mu'tamad dalam mazhab syafi'i.
Referensi : Kitab Sullamut Taufiq
Semoga Bermanfaat
#NgajiBarengSyahamah
Tampilkan postingan dengan label IBADAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IBADAH. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Februari 2014
Kamis, 19 September 2013
Bermakmun kepada orang yang tak membaca Basmallah, yang Syafi'iyah?
Sebenarnya sumber yang saya kutip berikut tidak secara langsung fokus pada judul di atas, namun dalam penjelasannya, permasalahan di atas di singgung sebagai bahan perbandingan pada pertanyaan yang harusnya di jawab.
mungkin banyak orang yang merasa kebingungan karena adanya perbedaan dalam tata cara beribadah yang dilakukan, apalagi bagi mereka yang tak pernah tahu adanya perbedaan tersebut dan juga pada mereka yang memiliki keinginan tinggi untuk belajar agama, lantas setelah pertama kali tahu membuatnya menjadi gundah gulana, meskipun banyak juga orang yang acuh tak acuh terhadap hal tersebut.
saya mengangkat hal ini bukan untuk memperuncing masalah perbedaan tersebut, namun hanya karena sebatas ingin berbagi informasi tentang yang selama ini saya bingungkan, karena perbedaan tata cara dalam shalat, karena tempat saya merantau merupakan lingkungan yang heterogen, dimana saya sebagai pengikut manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (ASWAJA), harus senantiasa memegang teguh 3 + 1 pilar keaswajaan yakni, Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus.
Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahlussunnah wal Jama'ah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun, bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini.
nah, oleh karena itu harus senantiasa bijak dan arif dalam memandang suatu permasalahan, karena semakin kita bisa menerima perbedaan, insyaAllah semakin indah hidup kita, meski kita heterogen namun tetap guyup rukun dalam bingkai Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nah berikut adalah jawaban atas judul di atas, semoga bisa melegakan perasaaan kita yang rendah akan ilmu agama.
"Assalamualaikum.
Buya Yahya yang saya hormati, saya mau bertanya. Apa saja syaratnya menjadi imam dalam shalat berjamaah? Bolehkan anak muda mengimami jamaah yang lebih tua? 085864256xxx
Syarat menjadi imam adalah pertama asalkan solatnya sendiri sudah sah menurut dirinya sendiri dan kedua sah menurut makmum, maka dia bisa jadi imam untuk orang lain. Adapun jika solatnya sah menurut imam dan tidak sah menurut makmum, maka dalam madhab syafii ada dua pendapat yang keduanya bisa diambil. Pendapat pertama: (Al'ibroh bi'tiqodil makmum), maksudnya jika solat imam menurut makmum tidak sah seperti jika bacaan imam fasih atau imam tidak membaca bismillah dalam fatihah, maka bagi makmum yang fasih atau biasa dengan bismillah tidak sah solatnya jika bermakmum dengan imam tersebut. Pendapat kedua: (Al'ibroh bi'tiqodil imam), maksudnya jika imam sudah sah menurut imam, maka siapapun boleh bermakmum denganya, maka solat makmum tetap sah biarpun dia biasa membaca bismillah dan imamnya ternyata tidak membacanya. Pendapat yang kedua inilah yang lebih layak dihadirkan saat ini untuk meredam perdebatan. Ada beberapa tatakrama jadi imam yang harus diperhatikan diantarnya adalah tahu diri. Jika bacaan Anda tidak bagus sementara ada orang yang lebih bagus atau anda ikut pendapat Imam Malik yang mengatakan bismillah tidak wajib dibaca sementara makmum ikut pendapat yang mewajibkan bismillah, maka janganlah Anda memaksakan diri jadi imam, sebab hal itu hanya membuat gundah para makmum yang kebanyakan orang awam. Sebaliknya jika anda menemukam imam yang tidak bijak, maka anda jangan ikut-ikut tidak bijak, ambilah pendapat kedua dan sahlah solat anda. Anak muda boleh jadi imamnya orang yang sudah tua, asalkan jangan wanita jadi imamnya orang laki-laki. Wallahu a'lam bissawab.
MULTIMEDIA DAKWAH BUYA YAHYA
Radio Qu : 92.9 FM Cirebon ; 104.8 FM Kuningan
BBM 2304A270
Twitter @buya_albahjah
FB : fb.com/buyayahya.albahjah
WhatsApp 082335404145
YM : majelis_albahjah@yahoo.co.id
www.buyayahya.org
www.buyayahya.tv
www.radioquonline.com
Sahabat, jangan lupa dishare ya, sebab Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
"Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya."
HR. Imam Muslim"
Nah, itu tadi adalah penjelasan dari Buya Yahya, pimpinan majelis Al Bahjah Cirebon, yang memegang teguh manhaj ahlus sunnah wal jama'ah, dan bermazhab syafi'i, yang dimana umat islam indonesia banyak yang mengikuti mazhab Imam Syafi'i dalam upaya mendapatkan penafsiran yang paling dari maksud Al Qur'an dan As Sunnah.
mungkin masih ada di antara pembaca yang meragukan kredibilitas dari seorang Buya Yahya, Yuk kita cari tahu siapa beliau di "Biografi Buya Yahya"
okey, semoga informasi ini dapat membantu gundah gulana kita sebagai umat islam yang heterogen,
Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad.
Sumber :
http://www.as-salafiyyah.com/2010/06/tiga-ciri-utama-ajaran-ahlussunnah-wal.html
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=551498938236479&set=a.225866950799681.65275.191390880913955&type=1&theater
mungkin banyak orang yang merasa kebingungan karena adanya perbedaan dalam tata cara beribadah yang dilakukan, apalagi bagi mereka yang tak pernah tahu adanya perbedaan tersebut dan juga pada mereka yang memiliki keinginan tinggi untuk belajar agama, lantas setelah pertama kali tahu membuatnya menjadi gundah gulana, meskipun banyak juga orang yang acuh tak acuh terhadap hal tersebut.
saya mengangkat hal ini bukan untuk memperuncing masalah perbedaan tersebut, namun hanya karena sebatas ingin berbagi informasi tentang yang selama ini saya bingungkan, karena perbedaan tata cara dalam shalat, karena tempat saya merantau merupakan lingkungan yang heterogen, dimana saya sebagai pengikut manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (ASWAJA), harus senantiasa memegang teguh 3 + 1 pilar keaswajaan yakni, Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus.
Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahlussunnah wal Jama'ah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun, bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini.
nah, oleh karena itu harus senantiasa bijak dan arif dalam memandang suatu permasalahan, karena semakin kita bisa menerima perbedaan, insyaAllah semakin indah hidup kita, meski kita heterogen namun tetap guyup rukun dalam bingkai Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nah berikut adalah jawaban atas judul di atas, semoga bisa melegakan perasaaan kita yang rendah akan ilmu agama.
"Assalamualaikum.
Buya Yahya yang saya hormati, saya mau bertanya. Apa saja syaratnya menjadi imam dalam shalat berjamaah? Bolehkan anak muda mengimami jamaah yang lebih tua? 085864256xxx
Syarat menjadi imam adalah pertama asalkan solatnya sendiri sudah sah menurut dirinya sendiri dan kedua sah menurut makmum, maka dia bisa jadi imam untuk orang lain. Adapun jika solatnya sah menurut imam dan tidak sah menurut makmum, maka dalam madhab syafii ada dua pendapat yang keduanya bisa diambil. Pendapat pertama: (Al'ibroh bi'tiqodil makmum), maksudnya jika solat imam menurut makmum tidak sah seperti jika bacaan imam fasih atau imam tidak membaca bismillah dalam fatihah, maka bagi makmum yang fasih atau biasa dengan bismillah tidak sah solatnya jika bermakmum dengan imam tersebut. Pendapat kedua: (Al'ibroh bi'tiqodil imam), maksudnya jika imam sudah sah menurut imam, maka siapapun boleh bermakmum denganya, maka solat makmum tetap sah biarpun dia biasa membaca bismillah dan imamnya ternyata tidak membacanya. Pendapat yang kedua inilah yang lebih layak dihadirkan saat ini untuk meredam perdebatan. Ada beberapa tatakrama jadi imam yang harus diperhatikan diantarnya adalah tahu diri. Jika bacaan Anda tidak bagus sementara ada orang yang lebih bagus atau anda ikut pendapat Imam Malik yang mengatakan bismillah tidak wajib dibaca sementara makmum ikut pendapat yang mewajibkan bismillah, maka janganlah Anda memaksakan diri jadi imam, sebab hal itu hanya membuat gundah para makmum yang kebanyakan orang awam. Sebaliknya jika anda menemukam imam yang tidak bijak, maka anda jangan ikut-ikut tidak bijak, ambilah pendapat kedua dan sahlah solat anda. Anak muda boleh jadi imamnya orang yang sudah tua, asalkan jangan wanita jadi imamnya orang laki-laki. Wallahu a'lam bissawab.
MULTIMEDIA DAKWAH BUYA YAHYA
Radio Qu : 92.9 FM Cirebon ; 104.8 FM Kuningan
BBM 2304A270
Twitter @buya_albahjah
FB : fb.com/buyayahya.albahjah
WhatsApp 082335404145
YM : majelis_albahjah@yahoo.co.id
www.buyayahya.org
www.buyayahya.tv
www.radioquonline.com
Sahabat, jangan lupa dishare ya, sebab Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
"Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya."
HR. Imam Muslim"
Nah, itu tadi adalah penjelasan dari Buya Yahya, pimpinan majelis Al Bahjah Cirebon, yang memegang teguh manhaj ahlus sunnah wal jama'ah, dan bermazhab syafi'i, yang dimana umat islam indonesia banyak yang mengikuti mazhab Imam Syafi'i dalam upaya mendapatkan penafsiran yang paling dari maksud Al Qur'an dan As Sunnah.
mungkin masih ada di antara pembaca yang meragukan kredibilitas dari seorang Buya Yahya, Yuk kita cari tahu siapa beliau di "Biografi Buya Yahya"
okey, semoga informasi ini dapat membantu gundah gulana kita sebagai umat islam yang heterogen,
Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad.
Sumber :
http://www.as-salafiyyah.com/2010/06/tiga-ciri-utama-ajaran-ahlussunnah-wal.html
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=551498938236479&set=a.225866950799681.65275.191390880913955&type=1&theater
Kamis, 01 Agustus 2013
Shalat Sambil Membaca Al-Qur'an Dari Mushhaf
Bismillahirrahmanirrahim....
Alhamdulillahi Robbil 'Alamin...,
tulisan ini berawal dari kesukaan saya melihat acara shalat taraweh di masjidil haram, makkah al mukarromah, dimana dalam shalat tersebut sang imam setelah membaca alfatihah, di lanjutkan dengan membaca surat-surat yang lain, disini imam memegang mushaf (al qur'an) untuk membaca surat-surat yang lain tersebut.
tentunya ini sangat menarik bagi saya, karena saya sangat ingin bisa membaca banyak surat-surat al qur'an saat shalat, selain surat pendek yang sering di baca, namun tentunya hal ini tidak bisa serta merta saya lakukan karena keterbatasan ilmu yang saya miliki dan kita ketahui bahwa ulama' arab saudi saat ini kebanyakan berpaham wahabi (syekh muhammad bin abdul wahab), dimana yang saya ketahui pandangan-pandangannya berbeda dengan yang saya ikuti yakni mazhab Imam Syafi'i, dimana jika melakukan gerakan di luar shalat dengan intensitas lebih dari 3x, atau dengan sekali gerakan yang amat sangat, dapat membatalkan shalat kita, apalagi saya tidak dalam keadaan berhaji yang bisa dijadikan hujjah untuk berpindah mazhab untuk sementara.
akhirnya, karena penasaran saya maka saya memulai pencarian akan hukum memegang mushaf saat shalat, mulai dari bertanya pada teman se-organisasi, bertanya di grup-grup facebook yang kebanyakan di dalamnya teman-teman ahlus sunnah wal jama'ah (aswaja), namun karena jawaban-jawaban kurang memuaskan saya, maka saya belum berani melakukan hal ini (memegang mushaf saat shalat).
untuk bertanya di google saya cenderung tidak terbiasa, karena kebanyakan yang muncul adalah website-website wahabi, dimana pemahamannya tidak saya ikuti, hingga akhirnya saya teringat bahwa sekarang sudah ada search engine khusus ahlus sunnah wal jama'ah (aswaja), yakni www.aswajanu.com, dan berikut adalah beberapa referensi yang saya dapatkan,
1. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam sebanyak makhluk-Nya..
Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan sahabatnya..amin
Habib (Habib Munzir Al Musawa*) yang kumuliakan..
saya mempunyai beberapa pertanyaan mengenai fiqih:
a. Boleh kah kita saat sholat sunnah sambil membaca mushaf Al- Quran dikarenakan tidak hafal, padahal kita ingin membaca 1 juz misalnya saat tarawih atau surat ad-dukhan saat sholat hifidh sementara kita belum hafal?
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
Kemuliaan Ramadhan, Kesucian Nuzulul Qur'an, Cahaya Keagungan Lailatul Qadr, dan Ijabah pada hari hari 10 malam terakhir semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
a. boleh saudaraku, banyak bergerak dalam memegang dan menaruh Alqur;an tidak membatalkan shalat, berbeda dg gerakan umum diluar tujuan ibadah yg bersangkutan dalam shalat, amaka 3X gerakan berturut turut membatalkan shalat.
maka siapkan meja disamping anda untuk menaruh Alqur;an saat sujud dan ruku, atau mengempitnya diketiak tapi dg meja afdhal.
saya sering melakukannya, saya memakai program Alqur'an di HP, maka saya selalu mengaji dg hanphone, lebih ringkas dan bisa dikantongi dikantong atas dan bisa dibawa kemana saja, karena jika program Alqur;annya ditutup maka sudah tidak tampil hurufnya, maka boleh disaruh dimana saja, dan hp alqur;an boleh disentuh tanpa wudhu.
Guru Mulia kita (Habib Umar Al Hafidz) walau hafal Alqur;an namun shalat malam beliau selalu memegang Mushaf Alqur;an, demikian pula saat mengimami tarawih, dan beliau menjelaskan untuk shalat sunnah afdhal memegang mushaf, karena mata turut mendapat pahala pembacaan Alqur;an walaupun hafal.
*Beliau adalah pimpinan Majelis Rasulullah.
Sumber : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&catid=8&id=24094
Diantara bentuk ibadah yang paling utama adalah ibadah yang menggabungkan antara dua kebaikan, misalnya menggabungkan antara salat dan membaca Alquran. Oleh karena itu, kaum muslimin berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengkhatamkan Alquran di dalam salat mereka. Namun, karena tidak semua orang bisa melakukan hal itu dengan bertumpu pada hafalannya, maka para ulama membahas tentang boleh tidaknya membaca mushaf ketika salat dengan cara memegangnya dengan tangan atau meletakkanya di tempat khusus sehingga dapat dibaca oleh orang yang salat.
Alhamdulillahi Robbil 'Alamin...,
tulisan ini berawal dari kesukaan saya melihat acara shalat taraweh di masjidil haram, makkah al mukarromah, dimana dalam shalat tersebut sang imam setelah membaca alfatihah, di lanjutkan dengan membaca surat-surat yang lain, disini imam memegang mushaf (al qur'an) untuk membaca surat-surat yang lain tersebut.
tentunya ini sangat menarik bagi saya, karena saya sangat ingin bisa membaca banyak surat-surat al qur'an saat shalat, selain surat pendek yang sering di baca, namun tentunya hal ini tidak bisa serta merta saya lakukan karena keterbatasan ilmu yang saya miliki dan kita ketahui bahwa ulama' arab saudi saat ini kebanyakan berpaham wahabi (syekh muhammad bin abdul wahab), dimana yang saya ketahui pandangan-pandangannya berbeda dengan yang saya ikuti yakni mazhab Imam Syafi'i, dimana jika melakukan gerakan di luar shalat dengan intensitas lebih dari 3x, atau dengan sekali gerakan yang amat sangat, dapat membatalkan shalat kita, apalagi saya tidak dalam keadaan berhaji yang bisa dijadikan hujjah untuk berpindah mazhab untuk sementara.
akhirnya, karena penasaran saya maka saya memulai pencarian akan hukum memegang mushaf saat shalat, mulai dari bertanya pada teman se-organisasi, bertanya di grup-grup facebook yang kebanyakan di dalamnya teman-teman ahlus sunnah wal jama'ah (aswaja), namun karena jawaban-jawaban kurang memuaskan saya, maka saya belum berani melakukan hal ini (memegang mushaf saat shalat).
untuk bertanya di google saya cenderung tidak terbiasa, karena kebanyakan yang muncul adalah website-website wahabi, dimana pemahamannya tidak saya ikuti, hingga akhirnya saya teringat bahwa sekarang sudah ada search engine khusus ahlus sunnah wal jama'ah (aswaja), yakni www.aswajanu.com, dan berikut adalah beberapa referensi yang saya dapatkan,
1. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam sebanyak makhluk-Nya..
Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan sahabatnya..amin
Habib (Habib Munzir Al Musawa*) yang kumuliakan..
saya mempunyai beberapa pertanyaan mengenai fiqih:
a. Boleh kah kita saat sholat sunnah sambil membaca mushaf Al- Quran dikarenakan tidak hafal, padahal kita ingin membaca 1 juz misalnya saat tarawih atau surat ad-dukhan saat sholat hifidh sementara kita belum hafal?
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
Kemuliaan Ramadhan, Kesucian Nuzulul Qur'an, Cahaya Keagungan Lailatul Qadr, dan Ijabah pada hari hari 10 malam terakhir semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
a. boleh saudaraku, banyak bergerak dalam memegang dan menaruh Alqur;an tidak membatalkan shalat, berbeda dg gerakan umum diluar tujuan ibadah yg bersangkutan dalam shalat, amaka 3X gerakan berturut turut membatalkan shalat.
maka siapkan meja disamping anda untuk menaruh Alqur;an saat sujud dan ruku, atau mengempitnya diketiak tapi dg meja afdhal.
saya sering melakukannya, saya memakai program Alqur'an di HP, maka saya selalu mengaji dg hanphone, lebih ringkas dan bisa dikantongi dikantong atas dan bisa dibawa kemana saja, karena jika program Alqur;annya ditutup maka sudah tidak tampil hurufnya, maka boleh disaruh dimana saja, dan hp alqur;an boleh disentuh tanpa wudhu.
Guru Mulia kita (Habib Umar Al Hafidz) walau hafal Alqur;an namun shalat malam beliau selalu memegang Mushaf Alqur;an, demikian pula saat mengimami tarawih, dan beliau menjelaskan untuk shalat sunnah afdhal memegang mushaf, karena mata turut mendapat pahala pembacaan Alqur;an walaupun hafal.
*Beliau adalah pimpinan Majelis Rasulullah.
Sumber : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&catid=8&id=24094
Diantara bentuk ibadah yang paling utama adalah ibadah yang menggabungkan antara dua kebaikan, misalnya menggabungkan antara salat dan membaca Alquran. Oleh karena itu, kaum muslimin berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengkhatamkan Alquran di dalam salat mereka. Namun, karena tidak semua orang bisa melakukan hal itu dengan bertumpu pada hafalannya, maka para ulama membahas tentang boleh tidaknya membaca mushaf ketika salat dengan cara memegangnya dengan tangan atau meletakkanya di tempat khusus sehingga dapat dibaca oleh orang yang salat.
Menurut Mazhab Syafi'i dan fatwa dalam Mazhab Hambali, dibolehkan
membaca Alquran dari mushaf ketika salat, baik sebagai imam ataupun
ketika salat sendiri. Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara salat
fardu dengan salat sunah dan antara orang yang hafal dengan yang tidak.
Ini adalah pendapat yang menjadi pegangan dalam kedua mazhab. Imam Ibnu
Qudamah dalam al-Mughnî menukil hal ini dari dua ulama salaf, yaitu Atha` dan Yahya al-Anshari.
Terdapat sebuah riwayat yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari
secara mu'allaq –dan disambungkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushannaf dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrâ—dari Aisyah, Ummul Mukminin r.a., bahwa dia pernah menjadi makmum dari budaknya, Dzakwan, yang membaca dari mushaf.
Dalam kitab al-Mudawwanah al-Kubrâ dan al-Mughnî karya
Ibnu Qudamah, disebutkan bahwa Imam az-Zuhri ditanya tentang seorang
lelaki yang membaca Alquran dari mushaf, lalu dia berkata, "Dulu
orang-orang terbaik kami membaca Alquran dari mushaf ketika salat."
Sebagaimana membaca Alquran merupakan ibadah, maka melihat ke
mushaf juga merupakan ibadah. Bergabungnya suatu ibadah ke dalam ibadah
yang lain tidak mengakibatkan rusaknya ibadah tersebut, akan tetapi
sebaliknya membuat bertambahnya pahala, karena di dalamnya terdapat
tambahan amalan berupa melihat ke dalam mushaf.
Hujjatul Islam al-Ghazali, di dalam kitab Ihyâ` Ulumiddîn
berkata, "Ada yang mengatakan bahwa mengkhatamkan Alquran dengan membaca
mushaf mendapatkan pahala tujuh kali lipat, karena memandang mushaf
juga merupakan ibadah."
Dalam kaidah syarak dijelaskan bahwa sarana untuk mencapai suatu
tujuan menempati posisi hukum tujuan itu. Tujuan membaca dari mushaf ini
adalah tercapainya pembacaan ayat dalam salat , sehingga jika tujuan
tersebut dapat tercapai dengan melihat tulisan seperti melalui mushaf,
maka itu dibolehkan.
Imam Nawawi di dalam al-Majmû' berkata, "Seandainya dia
(orang yang sedang salat) membaca Alquran dari mushaf maka salatnya
tidak batal, baik dia hafal Alquran atau tidak. Bahkan dia wajib
melakukan hal itu jika dia tidak hafal surat Al-Fâtihah. Bila orang
tersebut terkadang membuka lembaran mushaf maka salatnya tidak batal."
Al-Allamah Manshur al-Buhuti, seorang ulama Mazhab Hambali, dalam Kasysyâf al-Qinâ'
berkata, "Dia –orang yang salat—boleh membaca Alquran dari mushaf
walaupun dia hafal apa yang dibaca." Lalu dia berkata, "Dalam hal ini
sama saja antara salat fardu dan salat sunnah. Pernyataan ini dikatakan
oleh Ibnu Hamid."
Sedangkan para ulama Mazhab Hanafi berpendapat bahwa membaca
Alquran dengan mushaf ketika salat dapat merusak salat tersebut. Ini
juga merupakan pendapat Ibnu Hazm dari Mazhab Zhahiri. Diantara dalil
Ibnu Hazm dalam masalah ini adalah riwayat yang terdapat dalam Kitâb
al-Mashâhif karya Ibnu Abi Dawud dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata,
"Amirul Mukminin Umar r.a. melarang kami mengimami masyarakat dengan
membaca Alquran dari mushaf. Beliau juga melarang seseorang menjadi imam
kami kecuali yang sudah balig."
Namun riwayat ini tidaklah kuat, karena di dalam sanadnya terdapat Nahsyal bin Sa'id an-Naisaburi. Statusnya adalah kadzdzâb matrûk. Dalam at-Târîkh al-Kabîr,
al-Bukhari berkata tentang Nahsyal ini, "Di dalam hadis-hadisnya
terdapat riwayat-riwayat munkar." An-Nasa`i, sebagaimana disebutkan
dalam kitab Tahdzîb at-Tahdzîb, berkata, "Dia tidak tsiqah dan hadisnya tidak layak ditulis."
Dalil lain yang digunakan oleh ulama yang melarang adalah bahwa
membawa mushaf dan melihat ke dalamnya serta membuka-buka lembarannya
adalah termasuk gerakan yang banyak.
Jawaban dari dalil ini adalah bahwa jika yang dipermasalahkan
adalah gerakan membawa sesuatu ketika salat, maka Rasulullah saw. pernah
membawa Umamah binti Abil Ash di pundaknya ketika salat. Ketika
bersujud beliau meletakkannya, lalu ketika berdiri lagi beliau
menggendongnya kembali. Adapun membuka-buka lembaran mushaf, maka
terdapat beberapa hadis yang menunjukkan kebolehan melakukan gerakan
yang sedikit ketika salat. Membuka lembaran mushaf masuk dalam kategori
amalan sedikit yang dimaafkan ini.
Membaca dari mushaf tidak selalu merupakan gerakan yang banyak,
karena pada umumnya gerakan ini hanya dilakukan sewaktu-waktu saja,
mengingat lamanya jarak antara membuka satu lembaran dengan membuka
lembaran berikutnya. Bahkan, membuka lembaran itu sendiri termasuk dalam
gerakan yang sedikit. Saat ini, sebagian masyarakat memanfaatkan
penyangga khusus yang tinggi dan diletakkan di depan imam untuk menaruh
mushaf. Mushaf tersebut biasanya memiliki tulisan yang besar dan
lembaran yang lebar sehingga tulisan itu dapat terbaca satu atau dua
lembar tanpa perlu melakukan gerakan membuka lembaran.
Dua murid Abu Hanifah, yaitu Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan
asy-Syaibani berpendapat bahwa membaca Alquran dari mushaf ketika salat
adalah mutlak dimakruhkan, baik itu salat fardu maupun salat sunnah.
Akan tetapi perbuatan itu tidak membatalkan salat, karena merupakan
ibadah yang ditambahkan ke ibadah yang lain. Aspek kemakruhannya adalah
karena perbuatan itu menyerupai perbuatan Ahlul Kitab.
Berdasarkan kajian yang lebih mendalam, penyerupaan dengan Ahlul
Kitab dilarang jika pelakunya memang bermaksud menyerupainya. Karena
wazan kata tasyabbuh (menyerupai) adalah tafa'-'ul. Wazan
ini menunjukkan adanya sebuah niat dan orientasi untuk melakukan suatu
perbuatan dan menghadapi semua kesulitannya. Mempertimbangkan aspek niat
(tujuan) dari mukallaf merupakan salah satu dasar pengambilan dalil
dalam syariat.
Di antara dalil akan hal ini juga adalah hadis yang diriwayatkan
oleh Imam Muslim dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu
'anhu, ia berkata, "Rasulullah saw. sakit sehingga kami shalat di
belakang beliau yang melakukan shalat sambil duduk. Beliau menoleh ke
arah kami dan melihat kami dalam keadaan bediri semua. Lalu beliau
memberi isyarat kepada kami sehingga kami semua pun duduk. Setelah
melakukan salam, beliau bersabda,
إِنْ
كِدْتُمْ آنِفاً لَتَفْعَلُوْنَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّوْمِ، يَقُوْمُوْنَ
عَلَى مُلُوْكِهِمْ وَهُمْ قَعُوْدٌ، فَلاَ تَفْعَلُوْا، اِئْتَمُّوْا
بِأَئِمَّتِكُمْ، إِنْ صَلَّى قَائِماً فَصَلُّوْا قِيَاماً وَإِنْ صَلَّى
قَاعِداً فَصَلُّوْا قُعُوْداً
"Sesungguhnya kalian hampir saja
melakukan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang Persia dan Romawi.
Mereka berdiri di hadapan para raja mereka yang sedang duduk. Janganlah
kalian melakukan itu. Ikutilah imam kalian. Jika ia melakukn shalat
dalam keadaan duduk maka shalatlah dalam keadaan duduk juga dan jika ia
shalat dalam keadaan berdiri maka shalatlah dalam keadaan berdiri juga."
Kata "kidtum" (hampir) dalam hadis di atas menunjukkan tidak
terjadinya sesuatu yang dikhawatirkan meskipun nyaris terjadi.
Perbuatan orang-orang Persia dan Romawi telah benar-benar terjadi dan
dilakukan oleh para sahabat, tapi karena mereka tidak bermaksud untuk
mengikuti atau menyerupai perbuatan tersebut maka mereka tidak dianggap
telah menyerupai orang-orang Persia dan Romawi.
Oleh karena itu, Ibnu Nujaim, salah seorang ulama Hanafi, berkata dalam kitabnya al-Bahr ar-Râiq,
"Ketahuilah bahwa perbuatan menyerupai Ahlul Kitab tidak diharamkan
secara mutlak. Kita makan dan minum seperti mereka. Yang diharamkan
adalah menyerupai tindakan yang tercela dan dengan maksud mengikuti
mereka. Oleh karena itu seandainya tidak bertujuan untuk meniru mereka,
maka menurut keduanya (Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan) hal itu tidak
dimakruhkan."
Dalam masalah membaca Alquran dengan mushaf ketika salat ini, para
ulama Mazhab Maliki membedakan antara salat fardu dan salat sunnah.
Mereka berpendapat bahwa hal itu dimakruhkan secara mutlak dalam salat
fardu, baik pembacaan itu dilakukan sejak awal salat atau ketika di
tengah-tengah salat. Dalam salat sunnah hal itu dimakruhkan juga jika
memulai membaca dari mushaf ketika di tengah-tengah salat, karena pada
umumnya orang yang salat sibuk dengan amalan salatnya. Namun, hal itu
dibolehkan tanpa adanya kemakruhan jika sudah memulainya dari awal
salat. Karena terdapat hal-hal yang dapat ditolerir dalam salat sunnah
tapi tidak dapat ditolerir dalam salat fardu. (Manh al-Jalîl Syarh Mukhtashar al-Khalîl).
Alasan di atas dijawab bahwa kemakruhan ini bisa terjadi jika
gerakan tersebut adalah gerakan main-main yang tidak ada gunanya. Orang
yang salat dilarang untuk melakukan perbuatan seperti itu, karena
bertentangan dengan kekhusyukan dalam salat. Membaca mushaf ketika salat
tidaklah termasuk dalam kategori ini, tetapi masuk dalam gerakan ringan
untuk tujuan yang diinginkan. Semua perbuatan yang masuk dalam gerakan
ringan ini tidak apa-apa untuk dilakukan. Landasan dalil bagi hal ini
adalah hadis yang menyebutkan bahwa Nabi saw. melepas kedua sandalnya di
saat salat ketika diwahyukan kepada beliau bahwa di sandal tersebut
terdapat kotoran (najis). Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu
Dawud dari Abu Sa'id al-Khudri r.a..
Berdasarkan semua penjelasan di atas, maka membaca Alquran dari
mushaf ketika salat, baik fardu maupun sunnah, adalah boleh secara
syarak tanpa ada kemakruhan di dalamnya apalagi sampai membatalkan
salat.
Hanya saja perlu diperhatikan bahwa selama masalah ini merupakan
masalah yang masih diperdebatkan oleh para ulama, maka terdapat
kelapangan di dalamnya. Hal itu sesuai dengan kaidah syarak bahwa tidak
boleh melakukan pengingkaran dalam masalah khilaf. Dan tidak boleh pula
hal ini menjadi penyebab terjadinya ketidaktentraman dan pertikaian
antar orang-orang muslim.
Redaktur : AR
Sumber : Fatwa Dewan Dar Iftaa al-Mishriyah
Sumber web : http://www.madinatuliman.com/3/3/146-shalat-sambil-membaca-al-qur-an-dari-mushhaf.html
itulah beberapa pendapat dari ulama' mazhab syafi'iyah, untuk penulis karena keterbatasan ilmu penulis sendiri hanya melakukannya saat shalat sunnah saja, disisi lain dalam sholat fardhu kita lebih utamakan untuk berjama'ah saja.
semoga tulisan ini bisa menjadi hujjah bagi kita untuk mulai bisa mengkhatamkan qur'an dalam shalat kita, aamiin aamiin ya Robbal alamiin....
Sumber web : http://www.madinatuliman.com/3/3/146-shalat-sambil-membaca-al-qur-an-dari-mushhaf.html
itulah beberapa pendapat dari ulama' mazhab syafi'iyah, untuk penulis karena keterbatasan ilmu penulis sendiri hanya melakukannya saat shalat sunnah saja, disisi lain dalam sholat fardhu kita lebih utamakan untuk berjama'ah saja.
semoga tulisan ini bisa menjadi hujjah bagi kita untuk mulai bisa mengkhatamkan qur'an dalam shalat kita, aamiin aamiin ya Robbal alamiin....
Shalat Isya’ bermakmum pada Shalat Tarawih
Redaksi hadits didalam Shahih Muslim:
أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ كَانَ يُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ، فَيُصَلِّي بِهِمْ تِلْكَ الصَّلَاةَ
“Bahwa Mu’adz bin Jabal shalat ‘Isya (berjama’ah) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, kemudian ia kembali kepada kaumnya dan shalat ‘Isya’ menjadi imam bersama kaumnya”
Imam al-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’ kemudian juga menarik kesimpulan sebagai berikut; “Didalam madzhab kami, sah shalat sunnah mengikuti / bermakmum pada shalat fardlu, sah shalat fardlu mengikuti shalat sunnah, dan sah shalat fardlu mengikuti shalat fardlu lain yang jumlah raka’atnya sama seperti shalat dhuhur mengikuti / bermakmum pada shalat ‘Ashar, dan sah pula shalat fardlu mengikuti shalat fardlu lain yang jumlah raka’atnya lebih sedikit darinya, semua ini diperbolehkan tanpa ada perselisihan pada ulama kami”
Kebolehan shalat fardlu bermakmum pada shalat sunnah, shalat sunnah bermakmum pada shalat fardlu dan shalat fardlu bermakmum pada shalat fardlu lain selama jumlah raka’at makmum sama dengan jumlah raka’at imam atau lebih sedikit dari jumlah raka’at imam, serta pekerjaannya sama.
Dalam hal shalat tarawih yang merupakan shalat sunnah, maka orang yang shalat Isya’ (shalat fardlu) boleh bermakmum pada orang yang shalat tarawih, sehingga ketika imam mengucapkan salam maka makmum berdiri untuk menyempurnakan bilangan raka’atnya.
Imam al-Nawawi didalam al-Majmu’ menyebutkan : “Imam al-Haromain berkata .. dan seandainya shalat Isya’ mengikuti / bermakmum pada shalat tarawih maka diperbolehkan, apabila imam mengucapkan salam maka makmum berdiri untuk melanjutkan raka’at lainnya, dan yang lebih utama menyempurnakan secara munfarid”.
Syaikh Nawawi al-Bantani (ulama besar Indonesia) didalam Nihayatuz Zain berkata: “
“Dan boleh sholat 'Isya' mengikuti / bermakmum pada orang yang shalat tarawih, apabila imam mengucapkan salam dari dua raka’at maka makmum berdiri untuk menyelesaikan shalatnya dan menyempurnakannya secara sendirian. Sah pula shalat fardlu mengikuti shalat ‘Ied dan shalat istisqa’ (shalat meminta hujan), jika imam mengucapkan takbir shalat ‘Ied maka dianjurkan bagi makmum tidak ikut bertakbir, namun jika ikut bertakbir maka tidak membayahakan (membatalkan) shalatnya”
Imam al-Ramli didalam Niyahatul Muhtaj berkata : “Sah shalat Isya’ mengikuti dibelakang shalat tarawih, seperti kasus shalat dhuhur mengikuti dibelakang shalat shubuh, sehingga apabila imam melakukan salam maka makmum berdiri untuk menyempurnakan shalatnya, dan yang lebih utama baginya adalah menyempurnakan secara munfarid (shalat sendirian). Namun, apabila mengikutinya untuk kedua kalinya pada dua raka’at yang lain dari shalat tarawih maka boleh, seperti halnya orang yang shalat sendirian pada pertengahan shalatnya mengikuti shalat lainnya”. []
Wallahu ‘Alam
Penulis : AR
Sumber : MADINATULIMAN.COM
Langganan:
Postingan (Atom)

